Tuesday, 30 November 2021

Kiai Chamzawi, sosok luar biasa, sederhana, dan berkualitas


 foto ini diambil saat pernikahan Putra KH. Abdulloh Temas Batu. 

Wednesday, 6 October 2021

ANEKA LOGO ISHLAHIYAH LANGGAR GENTENG

 

Logo ini meskipun tidak dimasukkan sebagai kategori utama, namun masih dipergunakan sebagai logo dengan konsep lain.















Friday, 17 September 2021

kuliah di UT itu mudah, murah, dan fleksibel

saya sudah semester 3 kuliah di Universitas Terbuka. banyak sekali kemudahan yang saya dapatkan dari perkuliahan sistem daring ini. 


Tuesday, 1 September 2020

HARIRI


Hariri adalah adik dari sahabat saya bernama Burhan, pernah nyantri di Tambakberas. santri ini memang tidak cerdas-cerdas amat, tapi lumayan cekatan dan mau untuk menarik gerobak sampah dari pondok putri dibuang ke tempat sampah setiap hari. selama mondok disini tidak dipungut biaya sama sekali, karena selain faktor ekonomi juga karena faktor yang lainnya.

Friday, 5 June 2020

TATA CARA SHOLAT IDUL FITRI


 

1. Sebelum sholat, disunnahkan untuk memperbanyak bacaan takbir, tahmid, dan tasbih

2. Sholat dimulai dengan ‘ash-shalâtu jâmi'ah’, tanpa azan dan iqamah

3. Niat shalat Idul Fitri, berbunyi;

أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ (مَأْمُوْمًاإِمَامًا) لله تعالى

4. Membaca takbiratul ihram (الله أكبر) sambil mengangkat kedua tangan

5. Membaca takbir 7 kali membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

6. Membaca surah al-Fatihah, diteruskan membaca surah pendek dari Quran

7. Ruku', sujud, duduk di antara dua sujud, seperti shalat biasa

8. Pada rakaat kedua takbir sebanyak 5 kali membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

9. Membaca Surah al-Fatihah, diteruskan membaca surah yang pendek dari Quran

10. Ruku', sujud, dan seterusnya hingga salam

11. Setelah salam, disunnahkan mendengarkan khutbah Idul Fitri.


Gus Irul: Sebagai Kiai, Tetangga, dan Tauladan


Nama itu saya kenal beberapa tahun silam, lupa tepatnya. Gus Irul adalah sosok yang bersahaja, alim, istiqomah megajar, dan sabar. Dimata tetangga di jalan kramat, beliau tergolong warga yang loman dan tak banyak bercerita tentang kehebatan dirinya. Justru kehebatan itu nampak dari sebuah prestasi, pesantren yang dikelolanya, dan pengakuan orang lain. Beberapa kali berjumpa dalam rapat di MWC Singosari atau forum lain, Beliau seringkali diam dan tak banyak mengkritik. Malah justru diamnya ini yang membuat kami bertanya-tanya. Lumrahnya Kiai lain biasanya kritis dan tegas dalam berorganisasi dan mengabdikan dirinya masing-masing di NU. Ataupun jika Beliau tidak setuju atau ada saran, justru dengan sindiran otokritik (mengkritik dirinya sendiri) yang dimaksudkan untuk mengingatkan anggota lainnya dan dengan guyonan khas Beliau.

 

Padahal dulu sekitar tahun 2007 Beliau pernah mengkritik tentang “Fenomena Habaib” di Malang dan sempat viral pada masa itu, namun kecintaan Beliau pada habaib justru luar biasa dan Beliau pernah belajar langsung bertahun-tahun pada Syaikh Muhammad Ismail Zain Al Yamanidi Makkah. Namun beberapa tahun kemudian muncul fenomena yang dulu pernah dikritik oleh Beliau sebelumnya.

 

Sebagai tetangga, Beliau nampak istimewa saat menerima kami bertamu, “Lek sampean mriki niku sanes sowan, tapi ngopi” sering kali ucap Beliau dengan tersenyum. Sambil menggunakan kaos polos, sarungan, rokok geo, dan kemudian kopi hitam datang. Seringkali jika kami sowan, Beliau jarang bercerita atau memberikan nasehat, malah seringnya bertanya berbagai macam hal. Padahal kami datang itu ingin dapat nasehat, petuah, atau pengalaman-pengalan Beliau. Dan seringkali sebagai penghormatan kepada tamu sebelum pulang ada makanan nasi yang harus dimakan.

 

Pernah suatu hari kami sowan pada Beliau, malah kami yang tamu diberi oleh-oleh saat akan pamit pulang, kami yang tamu kebetulan tidak membawa apa-apa, karena memang niat silaturahmi dan tidak ada rencana sebelumnya kalau mau sowan, mengingat kejadian saat itu malunya bukan main, diterima salah tidak diterima juga salah (posisi malu dan serba salah), sudah minta do’a dan nasehat, diberi minum dan makan, pulang masih diberi oleh-oleh. Dalam oleh-oleh itu kami buka isinya gula dan teh celup, memang secara harganya murah, namun secara perhatian ini harganya sangat mahal. Perlakuan sederhana seperti inilah justru memiliki kesan tersendiri, bahwa menjadi orang baik itu sangat mudah. Inilah alasan mengapa saya menghormati dan mengagumi Beliau sebagai tetangga.

 

Sebagai pemimpin dan pengasuh, Beliau seringkali sangat mendukung kegiatan keagamaan ataupun Pondok Pesantren. Dulu saat saya bersama Gus Rofiq (Al Hikmah), Ust. Syafii Ghiram (NH), Ust. Luthfillah (PIQ), Mas Nuril (Saat itu belum menjadi kakak ipar, dan belum tahu kalau akan menjadi kakak ipar, hehe), Ust. Agus, dan para perwakilan pesantren lainnya, pernah aktif pada sebuah wadah ‘Formulassi: Forum Silaturrahmi Santri Singosari’. Saat itu memang untuk mengumpulkan delegasi pesantren dan menyamakan visi misi untuk bergerak dan berjuang bersama memang tidak mudah. Gus Irul menjadi satu-satunya Pengasuh yang tidak hanya mendukung pergerakan ini, namun juga siap direpoti dan membiayai agar organisasi ini tetap hidup, mengerahkan asatidz dan pengurus, dan selalu memfasilitasi setiap kegiatan. Pesan Beliau pun sederhana “Pokok sampean kabeh kudu mlaku, aku percoyo sampean kabeh, lek onok opo-opo sampean mrinio” dan tidak mendikte atau mengkritisi organisasi ini harus apa dan bagaimana. Hal ini menjadi kenangan istimewa bagi santri-santri muda seperti kami.

 

Banyak sebenarnya cerita dan kenangan bersama Beliau yang tak akan terlupakan, terutama kecintaan Beliau kepada Qur’an, bagaimana hidup secara Qur’ani, bagaimana menjadi guru yang baik, bagaimana mengabdikan diri, bagaimana menjadi tetangga, bagaimana hidup, bagaimana berkorban untuk orang lain, dan lain sebagainya. Hari ini adalah 100 hari Beliau wafat dan bertepatan dengan ulang tahun beliau ke 48 tahun, nanti pukul 15.30 pembacaan Yasin dan Tahlil yang tidak dilaksanakan bersama-sama seperti biasanya dikarenakan masih masa pandemi, namun tetap bisa mengikuti via live streaming dan dibaca dari rumah masing-masing. Dan ini sedikit tentang perjuangan dan kisah Beliau yang tidak akan hilang ditelan waktu. Wallahua’lam. Alfatihah.

 

Ahsani

Singosari, 1 Juni 2020 / 9 Syawal 1441


Wednesday, 7 August 2019

Rutinan Ngaji Ahad Legi


Alhamdulillah rutinan Ahad Legi terus berjalan dengan baik, adapun rutinan ini adalah untuk mengingatkan untuk terus membaca Qur'an bagi alumni Langgar Genteng. dengan wadah ini, minimal para alumni bisa terus bersilaturahim dan membaca ayat-ayat Al Qur'an disela-sela kesibukan masing-masing. insyaallah dengan cara ini kita bisa memperoleh barokah Al Qur'an dan mendapatkan kemuliaan dari hikmah silaturrahmi. 



Undangan media sosial rutinan AHAD LEGI - Langgar Genteng


Jadwal rutinan Ahad Legi Langgar Genteng


Sekolah Aswaja PMII Komisariat UM

Thursday, 17 May 2018

EKSPRESI ORANG TUA DI ALAM KUBUR

EKSPRESI ORANG TUA DI ALAM KUBUR

KETIKA DI ZIARAHI ATAU DI DOAKAN ANAKNYA

Dalam penjelasan kitab al-Ruh, karya Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah , Apa yang terjadi kepada orang tua ketika Anda berziarah ke makam mereka atau ketika Anda mendoakan mereka?

Syaikh Muhammad al-Syanqithi, berkata: Semoga Alloh mengampuni keluarga kita yang telah meninggal dunia dan kaum Muslimin yang telah meninggal dunia. Aku tidak mampu menahan tangis melihat betapa perlunya ahli kubur kepada kita. Aku terkesan dan aku ingin semuanya mengetahui hal ini..

Utsman bin Sawad, ulama salaf, bercerita tentang ibunya, seorang wanita yang ahli ibadah. Ketika ibunya akan meninggal dunia, ia mengangkat pandangannya ke langit dan berkata: “Wahai tabunganku, wahai simpananku, wahai Tuhan yang selalu menjadi sandaranku alam hidupku dan setelah kematiaku, jangan Engkau abaikan diriku ketika mati, jangan biarkan aku kesepian dalam kuburku.” Kemudian ia meninggal dunia.

Aku selalu berziarah ke makamnya setiap hari Jum’at . Aku berdoa untuknya, dan memohonkan ampun baginya dan semua ahli kubur di situ. Pada suatu malam aku bermimpi berjumpa dengan ibuku.

Aku berkata: “Wahai ibuku, bagaimana keadaanmu?”

Ia menjawab: “Wahai anakku, sesungguhnya kematian itu adalah kesusahan yang dahsyat. Aku alhamdulillah ada di alam barzakh yang terpuji. Ranjangnya harum, dan bantalnya terdiri tenunan kain sutera.”

Aku berkata: “Apakah Ibu ada keperluan kepadaku?”

Ia menjawab: “Iya. Jangan kamu tinggalkan ziarah yang kamu lakukan kepada kami. Sungguh aku sangat senang dengan kedatanganmu pada hari Jum’at ketika berangkat dari keluargamu" . Orang-orang akan berkata kepadaku: “Ini anakmu sudah datang.”  Lalu aku merasa senang, dan orang-orang mati yang ada di sekitarku juga senang.”

Basysyar bin Ghalib, ulama salaf pula, berkata: “ Aku bermimpi Robiah al-Adawiyah dalam tidurku. Aku memang selalu mendoakannya. Dalam mimpi itu ia berkata kepadaku: “Wahai Basysyar, hadiah-hadiahmu selalu sampai kepada kami di atas piring dari cahaya, ditutupi dengan sapu tangan sutera.”

Aku berkata: “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Ia menjawab: “Begitulah doa orang-orang yang masih hidup. Apabila mereka mendoakan orang-orang yang sudah mati dan doa itu dikabulkan, maka doa itu diletakkan di atas piring dari cahaya dan ditutupi dengan sapu tangan sutera. Lalu hadiah itu diberikan kepada orang mati yang didoakan itu" . Lalu dikatakan kepadanya: “Terimalah, ini hadiah si anu kepadamu.”

Seberapa sering kita berziarah ke makam orang tua, keluarga dan guru kita yang telah meninggal dunia?

Seberapa banyak kita mendoakan mereka dalam waktu-waktu kita beribadah??

Ziarah kita dan doa kita sangat penting bagi mereka..

رب اجعلنی مقيم الصلاة ومن ذريتی ربنا وتقبل دعاء ربنا اغفرلی ولوالدي وللمؤمنين يوم يقوم الحساب


Kantin Kejujuran Al Ishlahiyah

ini adalah salah satu cara kami untuk membentuk kejujuran santri.