Thursday, 17 May 2018

EKSPRESI ORANG TUA DI ALAM KUBUR

EKSPRESI ORANG TUA DI ALAM KUBUR

KETIKA DI ZIARAHI ATAU DI DOAKAN ANAKNYA

Dalam penjelasan kitab al-Ruh, karya Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah , Apa yang terjadi kepada orang tua ketika Anda berziarah ke makam mereka atau ketika Anda mendoakan mereka?

Syaikh Muhammad al-Syanqithi, berkata: Semoga Alloh mengampuni keluarga kita yang telah meninggal dunia dan kaum Muslimin yang telah meninggal dunia. Aku tidak mampu menahan tangis melihat betapa perlunya ahli kubur kepada kita. Aku terkesan dan aku ingin semuanya mengetahui hal ini..

Utsman bin Sawad, ulama salaf, bercerita tentang ibunya, seorang wanita yang ahli ibadah. Ketika ibunya akan meninggal dunia, ia mengangkat pandangannya ke langit dan berkata: “Wahai tabunganku, wahai simpananku, wahai Tuhan yang selalu menjadi sandaranku alam hidupku dan setelah kematiaku, jangan Engkau abaikan diriku ketika mati, jangan biarkan aku kesepian dalam kuburku.” Kemudian ia meninggal dunia.

Aku selalu berziarah ke makamnya setiap hari Jum’at . Aku berdoa untuknya, dan memohonkan ampun baginya dan semua ahli kubur di situ. Pada suatu malam aku bermimpi berjumpa dengan ibuku.

Aku berkata: “Wahai ibuku, bagaimana keadaanmu?”

Ia menjawab: “Wahai anakku, sesungguhnya kematian itu adalah kesusahan yang dahsyat. Aku alhamdulillah ada di alam barzakh yang terpuji. Ranjangnya harum, dan bantalnya terdiri tenunan kain sutera.”

Aku berkata: “Apakah Ibu ada keperluan kepadaku?”

Ia menjawab: “Iya. Jangan kamu tinggalkan ziarah yang kamu lakukan kepada kami. Sungguh aku sangat senang dengan kedatanganmu pada hari Jum’at ketika berangkat dari keluargamu" . Orang-orang akan berkata kepadaku: “Ini anakmu sudah datang.”  Lalu aku merasa senang, dan orang-orang mati yang ada di sekitarku juga senang.”

Basysyar bin Ghalib, ulama salaf pula, berkata: “ Aku bermimpi Robiah al-Adawiyah dalam tidurku. Aku memang selalu mendoakannya. Dalam mimpi itu ia berkata kepadaku: “Wahai Basysyar, hadiah-hadiahmu selalu sampai kepada kami di atas piring dari cahaya, ditutupi dengan sapu tangan sutera.”

Aku berkata: “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Ia menjawab: “Begitulah doa orang-orang yang masih hidup. Apabila mereka mendoakan orang-orang yang sudah mati dan doa itu dikabulkan, maka doa itu diletakkan di atas piring dari cahaya dan ditutupi dengan sapu tangan sutera. Lalu hadiah itu diberikan kepada orang mati yang didoakan itu" . Lalu dikatakan kepadanya: “Terimalah, ini hadiah si anu kepadamu.”

Seberapa sering kita berziarah ke makam orang tua, keluarga dan guru kita yang telah meninggal dunia?

Seberapa banyak kita mendoakan mereka dalam waktu-waktu kita beribadah??

Ziarah kita dan doa kita sangat penting bagi mereka..

رب اجعلنی مقيم الصلاة ومن ذريتی ربنا وتقبل دعاء ربنا اغفرلی ولوالدي وللمؤمنين يوم يقوم الحساب


Doa Menyambut Bulann Ramadhan

 Doa Menyambut Bulann Ramadhan ۞

[1] Berikut adalah Do’a Sulthon Al Aulia’ Sayyidina Syaikh ‘Abdul Qodir Al Jilani RA Yang Biasa Dibaca oleh Hadhrotus Syaikh Ahmad Asrori Al Ishaqy RA Untuk Menyambut Bulan Romadhon :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الصِّيَامِ.
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْقِيَامِ.
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ اْلاِيْمَانِ.
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْقُرْأَنِ.
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ اْلاَنْوَارِ.
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْمَغْفِرَةِ وَالْغُفْرَانِ.
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الدَّرَجَاتِ وَالنَّجَاتِ مِنَ الدَّرَكَاتِ.
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ التَّائِبِيْنَ الْعَابِدِيْنَ.
اَلسَّلاََمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْعَارِفِيْنَ.
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْمُجْتَهِدِيْنَ.
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ اْلأَمَانِ. كُنْتِ لِلْعَاصِيْنَ حَبْسًا وَلِلْمُتَّقِيْنَ اُنْسًا.
اَلسَّلاَمُ عَلَى اْلقَنَادِيْلِ وَالْمَصَابِيْحِ الزَّاهِرَةِ. وَالْعُيُوْنِ السَّاهِرَةِ. وَالدُّمُوْعِ الْهَاطِلَةِ. وَالْمَحَارِيْبِ الْمُتَعَطِّرَةِ. وَاْلعَبَرَاتِ الْمُنْسَكِبَةِ الْمُتَفَطِّرَةِ. وَاْلاَنْفَاسِ الصَّاعِدَةِ مِنَ الْقُلُوْبِ الْمُحْتَقِرَةِ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ قَبِلْتَ صِيَامَهُمْ وَصَلاَتَهُمْ وَبَدَّلْتَ سَيِّئاَتِهِ بِحَسَنَاتِهِ. وَاَدْخَلْتَهُ بِرَحْمَتِكَ فِى جَنَّاتِكَ. وَرَفَعْتَ دَرَجَاتِهِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الراَّحِمِيْنَ.

 Salam bagimu wahai bulan Romadhon.
- Salam bagimu wahai bulan qiyam (bulan untuk mendirikan sholat tarawih).
- Salam bagimu wahai bulan iman.
- Salam bagimu wahai bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an.
- Salam bagimu wahai bulan yang penuh cahaya.
- Salam bagimu wahai bulan yang penuh ampunan.
- Salam bagimu wahai bulan (untuk menaikkan) derajat dan keselamatan dari derajat yang rendah.
- Salam bagimu wahai bulan bagi orang-orang yang bertaubat dan ahli ibadah.
- Salam bagimu wahai bulan milik orang-orang yang ma’rifat. Salam bagimu wahai bulan milik orang-orang yang bersungguh-sungguh.
- Salam bagimu wahai bulan yang aman. Engkau adalah penjara bagi orang-orang yang melakukan maksiat dan kesenangan bagi orang-orang yang bertakwa.
- Salam bagi pelita yang bersinar, mata-mata yang terjaga, airmata yang terus menetes, mihrab-mihrab yang semerbak mewangi, airmata yang tumpah, dan nafas-nafas yang naik dari hati yang hina.
- Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang Engkau terima puasa dan sholatnya, yang Engkau ganti kejelekannya dengan kebaikan, yang Engkau masukkan ke dalam surga-Mu dengan rahmat-Mu, dan yang Engkau angkat derajatnya dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Asih.”

۞ Doa ini biasa dibaca hadhrotus Syaikh pada malam tanggal 1 Romadhon ba’da maghrib, dengan model talqin (Beliau membaca beberapa kalimat, lalu ditirukan oleh jamaah). Dinukil dari Al Ghunyah li Tholibi Thoriq Al Haq karya Sulthon Al Aulia’ Sayyidina Syaikh ‘Abdul Qodir Al Jilani RA ۞ والله اعلم بالصواب

Tuesday, 8 May 2018

Haul Ke 62, Almaghfurlah KH. Abd. Chamid Hasbullah Said, Tambakberas Jombang

KH.  MARTAIN BERTUTUR TENTANG KH.  HAMID CHASBULLAH

Saat acara haul KH.  Abdul Hamid Chasbullah Tambakberas pada tanggal 12 Mei 2018 di GOR Bahrul  Ulum,  didatangkan salah satu santri KH. Abdul Hamid,  yakni KH. Martain (75),  pengasuh pesantren Al Hidayah di Batu Malang.  Kiai Martain yang mondok di Tambakberas sejak tahun 1955 hingga 1961 ini bercerita bahwa Mbah Hamid adalah 
Sosok kiai yg alim, aris,  tawadlu',  istiqomah dan wirai. 

Begitu alimnya beliau, sehingga sering menjadi mitra diskusi Kiai Abdul Wahab  Chasbullah tentang hukum fiqih. Dalam menjawab pertanyaan Mbah Kiai Wahab, Mbah Hamid menjawab di luar kepala,  "Kang, jawabanè iku nang kitab iki,  shohifah sakmene" (Mas,  jawabannya itu ada di kitab ini, halaman ini).  Begitu kitab yang dirujuk Mbah Hamid dibuka oleh Mbah Wahab, ternyata ta'bir kitab persis seperti  yang dicari Mbah Wahab,  dan yang dikatakan Mbah Hamid.

Kiai yang pernah disuapi langsung oleh Mbah Hamid dari sisa daharannya Mbah Hamid ini mempunyai pengalaman lain tentang Mbah Hamid yang saat difoto seringkali hanya kelihatan klompennya saja. Tidak hanya sulit difoto,  Mbah Hamid juga terkenal ahli menghentikan hujan. Kalau pawang hujan zaman sekarang biasanya merapalkan doanya beberapa hari sebelum hari H suatu acara. Namun bagi Mbah Hamid seketika itu juga.  Kiai Martain yang setelah dari Tambakberas melanjutkan mondok ke Lasem ini menyaksikan  sendiri saat imtihan (haflah), hujan deras luar biasa di pondok Tambakberas.  Dalam kondisi demikian,  Mbah Hamid naik podium sambil membawa pisang raja satu biji.  Pisang dikelupas dan dimakan  sepotong.  Begitu pisang tadi ditelan,  hujan  berhenti.  Sayangnya beliau tidak tahu doa apa yang dibaca oleh Mbah Hamid. 

Di luar tentang karamah di atas, Mbah Hamid merupakan kiai penggemar kopi. Beliau jika belum minum kopi, biasanya akan mengantuk dan tertidur saat mengajar santri bakda subuh. Hal ini begitu dipahami oleh Bu Nyai khodijah (Mbah Den), sehingga kopi akan selalu tersedia di pagi hari sebelum beliau memulai rutinan mengaji, bahkan tiap ngaji selalu tersanding kopi di sisi meja ngaji Mbah Hamid.

Begitu pahamnya Mbah Nyai Khodijah akan kebiasaan Mbah Hamid, terkadang mbah Nyai khodijah "menggoda" Mbah Hamid dengan kebiasaanya itu. Kalau setiap pagi sewaktu Mbah Hamid  akan mengaji selalu tersedia kopi.  Tetapi setelah pulang dari Sambong  (ke ndalem Bu Nyai Mukminah),  terkadang kopi tidak disediakan sehingga Mbah Hamid mengantuk dan tertidur di depan santri yang hendak mengaji

Tidak hanya bercerita tentang Mbah Hamid,  beliau juga bercerita tentang Mbah Wahab. Gus Latif Malik dapat cerita bahwa sepulang dari mondok di Lasem,  Kiai Martain mendirikan pesantren di Surabaya.  Sebagai santri, beliau sowan ke Kiai Wahab untuk minta restu. 

Ternyata saat itu di ruang tamu Mbah Wahab ada kiai dari pesantren Al Ittihad Poncokusumo Malang yang membutuhkan ustadz. Begitu Kiai Martain mungucap salam,  Mbah Wahab langsung berkata,  "Wes iki ae" (sudah, ini saja yang menjadi ustadz).  

Akhirnya kiai Martain tidak jadi minta restu,  sebagai santri yang baik, beliau ikut dawuh Mbah Wahab dengan meninggalkan pesantren yang sudah dibangun,  dan mengajar di pesantren Al Ittihad.  

Akhirnya pesantren Al Ittihad berkembang pesat dengan ribuan santri berkat petunjuk Mbah Wahab tersebut.  Setelah itu,  baru Kiai Martain mendirikan pesantren sendiri di Batu Malang.  

Tidak hanya bertutur tentang manakib Mbah Hamid,  alhamdulillah kami diberi ijazah Alfatihah dari Kiai Martain yang diajarkan oleh Mbah Hamid.  Kaifiyahnya agar sesering mungkin, kapan pun,  dan dimanapun membaca Fatihah. Ijazah Alfatihah ini sama seperti yang diajarkan oleh santri Mbah Hamid yang lain,  yakni Kiai Ma'shum dari Kedunggudel Ngawi. Namun hanya beda waktu membacanya, yakni 7 kali selesai sholat lima waktu.

Thursday, 26 April 2018

Ishlah Furniture, Wirausaha dan Langkah Awal



Usaha ini adalah salah satu pilihan saya untuk tetap berwira usaha, belajar bekerja, belajar mebagi waktu, belajar analisa usaha, belajar menjadi manajer toko, belajar sosialisasi, bagaimana membangun jaringan usaha, bagaimana menata sebuah toko, dan lain sebagainya. yang nantinya saya semakin banyak belajar tentang wirausaha secara langsung.

Modal awal
dengan modal awal sekitar 6 juta, saya nekat menjalankan usaha ini, dengan modal itu bisa saya belikan bantal, guling, kasur lipat, dan kasur palembang.

Kendala dan Halangan
Kendala terbesar sebenarnya adalah dari diri sendiri,




Wednesday, 4 April 2018

Menawarlah dengan Bijak


Suatu sore setelah lelah keliling pasar, di perjalanan menuju parkiran mobil seorang pedagang tanaman bunga yang berusia sepuh menawarkan dagangannya:
Pedagang: “Neng, beli neng dagangan bapak, bibit bunga mawar 5 pot cuma 25.000 per pot”
Tadinya saya cuek, tapi tiba-tiba teringat pekarangan mungil di rumah yang kosong, wah murah nih pikir saya, cuma 25.000/pot, tapi ah pasti bisa ditawar.
Saya: “Ah mahal banget pak 25.000, udah 10.000/pot,” dengan gaya cuek saya menawar sadis.
Pedagang: “Jangan neng, ini bibit bagus. Bapak jual udah murah, 15.000 aja gimana neng bapak udah sore mau pulang.”
Saya ragu sejenak, memang murah sih. Di toko, bibit bunga mawar paling tidak 45.000 harga 1 pot nya. Tapi bukan saya dong kalau tidak berjuang.
Saya: “Halah udah pak, 10.000 ribu aja 1 kalau gak dikasih ya gak apa-apa,” saya berlagak hendak pergi.
Pedagang: “Eh neng…,” dia ragu sejenak dan menghela nafas. “Ya sudah neng gak apa-apa 10.000, tapi neng ambil semuanya ya, bapak mau pulang udah sore.”
Saya: (Saya bersorak dalam hati. Yeee…menang) “Oke pak, jadi 50.000 ribu ya utk 5 pot. Bawain sekalian ya pak ke mobil saya, tuh yang di ujung parkiran.”
Saya pun melenggang pergi menyusul suami yang sudah duluan. Si bapak pedagang mengikuti di belakang. Sesampainya di parkiran, si bapak membantu menaruh pot-pot tadi ke dalam mobil, saya membayar 50.000 lalu si bapak tadi segera pergi. Lalu terjadilah percakapan berikut dengan suami,
Saya: “Bagus kan yang, aku dapet 5 pot bibit bunga mawar harga murah.”
Suami: “Oohh..berapa kamu bayar ?”
Saya: “50 ribu.”
Suami: “Hah…!!! Itu semua 5 pot ?” dia kaget.
Saya: “Iya dong… hebat kan aku nawarnya? Tadi Dia nawarinnya 25.000 1 pot,” saya tersenyum lebar dan bangga.
Suami: “Gila kamu, sadis amat. Pokoknya aku gak mau tahu. Kamu susul itu si bapak sekarang, kamu bayar dia 125.000 tambah upah bawain ke mobil 25.000 lagi. Nih, kamu kejar kamu kasi dia 150.000!”
Suami membentak keras dan marah, saya kaget dan bingung.
Saya: “Tapi… kenapa..?”
Suami: Makin kencang ngomongnya, “Cepetan susul sana, tunggu apa lagi.”
Tidak ingin dibentak lagi, saya langsung turun dari mobil dan berlari mengejar si bapak tua. Saya lihat dia hendak naik angkot di pinggir jalan.
Saya: “Pak…… tunggu pak…”
Pedagang: “Eh, neng kenapa ?”
Saya: “Pak, ini uang 150.000 pak dari suami saya katanya buat bapak, bapak terima ya, saya gak mau dibentak suami, saya takut.”
Pedagang: “Lho, neng kan tadi udah bayar 50.000, bener kok uangnya,” si bapak keheranan.
Saya: “udah bapak terima aja. Ini dari suami saya. Katanya harga bunga bapak pantesnya dihargain segini,” sambil saya serahkan uang 150.000 ke tangannya.
Pedagang: Tiba-tiba menangis dan berkata, “Ya Allah neng… makasih banyak neng… ini jawaban do'a bapak sedari pagi, seharian dagangan bapak gak ada yang beli, yang noleh pun gak ada. Anak istri bapak lagi sakit di rumah gak ada uang buat berobat.
Pas neng nawar bapak pikir gak apa-apa harga segitu asal ada uang buat beli beras aja buat makan. Ini bapak mau buru-buru pulang kasian mereka nunggu. Makasih ya neng… suami neng orang baik. Neng juga baik jadi istri nurut sama suami, Alhamdulillah ya Allah. Bapak pamit neng mau pulang…,” dan si bapak pun berlalu.
Saya: (speechless dan kembali ke mobil).
Sepanjang perjalanan saya diam dan menangis, benar kata suami, tidak pantas menghargai jerih payah orang dengan harga semurah mungkin hanya karena kita pelit. Berapa banyak usaha si bapak sampai bibit itu siap dijual, tidak terpikirkan oleh saya.
Sejak itu, saya berubah dan tak pernah lagi menawar sadis kepada pedagang kecil manapun. Percaya saja bahwa rejeki sudah diatur oleh Tuhan.
Sebuah pengingat untuk kita yang kadang tidak adil dalam memperlakukan orang lain semena-mena. Semoga tidak terjadi pada kita dan jkka itu terjadi bisa menjadi bahan pertimbangan.
"Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung"

GUS

GUS
Oleh: Ahsani F Rahman
Dunia pesantren menyimpan banyak hal untuk diceritakan, termasuk juga tentang Gus (putra kyai) yang sebodoh apapun, senakal apapun, seburuk apapun harus tetap di hormati karena jalur keturunannya, bukan karena murni kebaikannya sendiri. Tidak hanya tambahan gelar 'Gus' saja untuk penghormatan itu, tapi juga dengan bahasa Jawa halus untuk berkomunikasinya, harus merunduk atau bahkan mencium tangannya ketika berjumpa. Kemudian masih harus ada unsur 'kualat' jika melanggar peraturan ini, dan tidak 'barokah' jika kita melakukan diluar tradisi ini.
Gus bukanlah dewa yang terus disembah-sembah, dan bukan juga raja yang terus disanjung-sanjung tanpa tahu pahitnya hidup. Bahkan penghormatan pada Gus bisa mengalahkan penghormatan pada guru atau ustadz kita sendiri yang lebih pintar, sholih, dan jelas perjuangannya untuk kalangan santri. Sedangkan Gus hanya bermodalkan nasab dan mendapatkan amplop mengalir tanpa tahu jasa apa yang telah dilakukannya. Sedangkan para guru masih tetap saja hidup apa adanya bermodalkan barokah.
Kemudian, penambahan gelar Gus masih belum memiliki standar tersendiri, bahkan kecenderungan pemberian gelar secara 'instant' ini semakin membikin sosok Gus yang semaunya sendiri, semakin membikin 'manja' dalam menjalani kehidupan, hal-hal yang seharusnya dengan proses panang didapatkan dengan cara instant, lebih mengandalkan darah birunya dari pada aspek manusianya, dan seringnya tidak tahu apa yang harus dilakukan seorang Gus sebagai keturunan atau sebagai tauladan.
Pada kasus beberapa Pesantren, sang Pengasuh juga masih sering memanjakan putranya untuk menguasai dinasti Pesantren tanpa adanya proses yang tepat. Karena setiap Ayah selalu membanggakan anaknya kepada siapa pun. Namun hal-hal ini sangat tergantung dengan bagaimana sosok Kyai memiliki kebijaksanaan dan penerapan pada kenyataannya.
Tentu kita mengenal sosok-sosok Gus yang benar-benar mumpuni dan sosok Gus yang abal-abal. Alias numpang tenar, kaya, terkenal, dan mapan dari perjuangan para leluhur-leluhur sebelumnya. Sebelumnya pernah penulis kupas tentang 3 jenis Gus; Gus Nasab, Gus Nasib, dan Gus Nasob. Juga ada 5 macam Gus; Gus Jadzab, Gus Kasab, Gus Kalap, Gus Ngalap, dan Gus Balap. Dalam istilah klasifikasi ini tidak ada standar khusus, namun hanya mempermudah untuk memahami saja.
Beberapa kewajiban yang tidak seharusnya, seperti Gus pada Pesantren salaf wajib bisa baca kitab kuning, Gus pada Pesantren Modern wajib memiliki gelar formal, Gus pada Pesantren Qur'an wajib hafal Qur'an, Gus pada Pesantren Dakwah wajib menguasai retorika dan pidato, Gus pada Pesantren Desa Wajib bisa ilmu batin, dan seterusnya. Hal tersebut seakan-akan adalah sebuah keharusan jika menjadi keturunan Kyai Pesantren tersebut.
Mengandalkan nasab adalah salah satu hal terburuk dalam diri gus. Ada Maqolah dari Imam Syafi'i, Tentang berbangga dengan nasab (keturunan)
الكفاءة في الدين لا في النسب, لو كانت الكفاءة في النسب لم يكن أحد في الخلق كفوءا كفاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم, ولا لبنات الرسول صلى الله عليه وسلم.
Kehormatan terletak pada kadar agama bukan keturunan, andaikan kehormatan terletak pada keturunan niscaya tak ada seorang pun yang menandingi kehormatan Fatimah putri Rasulullah saw, atau putri-putri beliau lainnya.
Catatan lama, 15 Juni 2015
Dalam antologi pahit "Setelah hujan dan hujatan turun sore itu" Semoga bermanfaat dan mohon maaf jika ada kesalahan, dan juga bahan introspeksi menampar muka sendiri, sekaligus mohon pencerahan dari para netizen juga NUtizen.

Drop Out

Saya pernah kuliah, tapi tidak pernah lulus, saya pernah belajar di kampus tapi tidak pernah wisuda, saya gagal lulus dari kampus, tapi saya tidak ingin gagal dalam mengabdi untuk keluarga, agama, masyarakat, dan bangsa. Saya pernah merasakan pahitnya drop out (DO) dari kampus, dan saya sama sekali tidak menyesal. Saya tidak ingin memengaruhi siapapun untuk cara seperti ini, ini bukan hal yang baik. Biar aku saja, hahaha.
Namun mengapa saya bangga dengan DO? Karena selama saya belajar di kampus saya tergolong mahasiswa yang tidak layak disebut mahasiswa, tidak layak untuk lulus, tidak layak memiliki gelar sarjana, tak layak sebagai civitas akademi, tak rajin belajar, membaca, dan diskusi. Dan akhirnya saya malu jika menjadi sarjana bodoh, sarjana pengangguran, sarjana ijazah, sarjana tak mengerti tentang jurusannya.
Ketika itu saya sudah lelah atas kepura-puraan dengan topeng birokrasi pendidikan. Dan mengecewakan cita-cita orang tua agar saya memiliki gelar sarjana. Saat itu banyak cacian dari teman-teman atas prestasi DO saya, dibully saat wisuda, dan tak jarang sindiran halus menghujam dihati. Namun, saya tetap atas pendirian saya, saya siap menanggung segala resiko. Selalu saya tanamkan bahwa masa depan dan kesuksesan bukan karena ijazah dan gelar, tetapi karena niat diri dan perjuangan panjang.
Tak terasa hari ini adalah 4 tahun lalu saya DO dari universitas unggulan dan impian saya dahulu. Meski tak lulus yang penting pernah kuliah disini dengan segala kenangan dan perjalanannya. Hari ini saya mendapatkan hadiah luar biasa bagi saya dari almamater 'the learning University' tepat di kelas saya belajar dulu yang kini menjadi gedung rektorat. Hal yang tak pernah terbayangkan. Mengingat dulu saat ospek begitu banyak bayangan harapan setelah kuliah, cita-cita setinggi-tingginya, dan lulus dengan baik.
Dan benar, tentang masa depan siapa yang tahu, tentang DO siapa yang mau, masa lalu dan sekarang sama sekali berbeda. Namun satu hal yang masih membekas, bahwa belajar itu dimanapun, kompetisi itu siapapun, berjuang atas nama kemanusiaan dan keilmuan, dan tanpa memandang gelar atau status bahwa semua harus dihargai, dan semua boleh belajar setinggi-tingginya.
Ada salah satu sahabat saya yang bertanya, "lha lantas kamu kalau kuliah tidak mencari lulus dan tidak mencari ijazah lantas kamu mencari apa?" lantas saya jawab "saya mencari hikmahnya saja, hahaha", bahwa selalu ada alasan.
Maka ketika kita kembali pada masyarakat, tidak ditanya apa gelarmu, tapi ditanya apa karyamu?, apa prestasimu? apa perjuanganmu? Apa dedikasimu? Apa tujuan hidupmu? Tidak sekedar hidup, tapi menghidupi dan tidak sekedar gerak tapi menggerakkan. Wallahua'lam.
Warm Regard,
Ahsani F Rahman

Reconciled With Time




Reconciled With Time
By: Ahsani F Rahman
 
Closer with time by filling it with time-consuming activities. Nothing lasts, all will be forced to change by time. And we must learn to make peace with time because time will always force us to change, move or go. In time, the young will grow old, gallant will become weak, beautiful or handsome will turn into not beautiful or handsome, healthy will move to become sick. Together, the power will change hands, the glory will move lap, the personality will switch people, ownership will change status.
 
 
Time is a beautiful grace of God and a very close time to the heart of His Essence. Time is invisible, inaudible, untouched. Time is very near, there, and covers us. So naturally Allah says: 'By Time' (time) and God often swears by time.

Time is more senior than us, then do not have to set. But arrange ourselves to cover it by making peace with it and synergize with it. Formerly is now, later is now. Formerly produce now and later is the result of now. Time is past and present. Slow down or fast depending on a flavor: Happy, Calm, or Tense. Time will always remain everywhere that cannot be repeated or in advance.
 
 
We must understand three years of school and failure of exam, or one-minute waiting for the plane, or one who survived an accident in a second, or a runner a mile late, and how really meaningful a time. So if we want to have a meaningful time, then we must make sure that our activities are special. Bringing His many benefits and blessings. And ready to call him willingly anytime.
 
 
Our time will always be the same, but different ways to fill it. Happy running our respective activities. May we always be at peace with time.


Friday, 17 March 2017

Ucapan Terimakasih pada MANAQIB KUBRO SE-JATIM 2017

Ungkapan Terimakasih

Kepada para Ulama dan Umaro yang sudah mendukung total acara kami, Kepada Gus Mahu, Gus Muh, dan Gus Nafi' yang sudah memberikan support, masukan, dan bimbingan pada penyelenggaraan Manaqib Kubro 2017. Kepada Kyai Fatkhur selaku Ketua Korcab Kab. Malang yang mulai awal hingga akhir telah berjuang bersama kami di lapangan, mulai menguruk tanah, meratakan, koordinasi, semangat, hingga konsumsi. Kepada Bapak Rahmad selaku Pimpinan Ghusniyah Singosari yang jatuh bangun dalam proses pengawalan Acara dan kritik yang menggelitik. Kepada Abi Badawi Umar, Bulik Anis, dan Pak Lik Hasib yang berhari-hari tanpa lelah mempersiapkan berbagai macam kebutuhan acara mulai konsumsi, lokasi, sarana, mobil, dan berbagai bantuan hingga setelah acara. Kepada K.H. Slamet Hariono selaku Ketua MWC NU Singosari dan Kepala Sekolah SMK Al Ishlahiyah yang totalitas pada persiapan berbagai lini dan pengerahan masa. Kepada Pak Hadi Sukamto sebagai ketua Keamanan dan Parkir yang meluber kemana-mana. Kepada Bapak Qodir Hamid selaku Ketua Humas, Konseptor, Penasehat konsep, MC, dan serabutan. Kepada Bapak H. Rudik atas saluran air, AQNU, dan banyak lainnya. Kepada Gus Rofiq (Al Hikmah) yang membantu mencarikan donatur dan ternyata diluar dugaan kami. Kepada Ibu Nur Cholisoh selaku ketua Muslimat NU yang sudah mengerahkan ribuan konsumsi untuk acara. Kepada Bapak H. Hilal Fahmi atas kerjasama bilateral antar Banom NU dan kerjasama lainnya. Kepada K.H. Imam Sukarlan atas Khotmil Qur'an dan pembacaan Arwah. Kepada Ust. Syifaudin atas Lantunan Ayat Suci dan Sholawat Thoriqiyah. Kepada Gus Alex sebagai donatur, motivator, dan terus memberi semangat. Kepada Gus Ali Akbar, selaku Ketua PC MATAN Kota Malang yang sudah membantu dan juga turut serta melantik bersama Gus Farih Sulaiman dalam Pelantikan Pengurus Baru PC MATAN Kab Malang. Kepada H. Syamsul (Lokjati) selaku wakil dan perwakilan donatur area Timur.

Kemudian Kepada Cak Badrus dan Cak Luthfi dua kakak beradik yang bergantian selalu mengisi mulai keliling proposal, angkat-angkat, bikin surat, hingga ngedum berkat. Kepada Cak Edi yang baru dilantik sebagai Ketua MATAN Kab. Malang yang super rajin untuk riwa-riwi, mimpin rapat, dan serbaguna di acara. Kepada Cak Jauhari (kepsek SMP As Syadzili) selaku tim dokumentasi, MC Pra acara, dan saluran Proyektor yang multifungsi. Kepada Cak Afan yang sudah keliling menemani sebelum acara, kegundahan acara, hingga selesai. Kepada Cak Chalwani yang nyupir, keliling proposal di Pasar tanpa sungkan, menagih dana, dan nyandak apa saja. Kepada Cak Ilham yang sudah bikin banner, masang banner, stiker, pin, buku panduan, dan bagian Bazar. Kepada Cak Munir yang telaten Mencatat keuangan, menhgitung, menganalisa, data arwah, dan mobilitas tinggi. Kepada Bapak Nur Hasan selaku Tim bayangan dari TNI yang sudah mengawal sebelum acara hingga pasca acara juga komando koordinasi luar. Kepada Ust Imam Hambali yang selalu membikinkan kopi, konsumsi, hingga Speaker Langgar Genteng dan kebersihan. Kepada Cak Shidiq yang tenaga angkat-mengangkat dan sembarang di candak. Kepada Kaji Hamzah yang meski kondisi asam urat tetap memaksakan diri untuk mencari dana dan mengatur di lokasi. Kepada Pak Zen selaku dokumentasi, video, dan fotografi. Kepada Cak Man yang macul suket, bersih-bersih, dan sejenisnya. Kepada Cak Khusnan yang membantu meski tak terlihat dan kondisi parkir acara. Kepada Mas Nuril Musthofa yang sudah membantu pengerahan masa dan semangat. Kepada Istri Tercinta (Ummu Nafisatul Qoyyimah) yang membantu dikala saya lelah, bikin kopi, konsumsi, support, dan membangunkan baik fisik maupun mental setiap waktu. Kepada Pak Sudarmaji sebagai perwakilan Banser yang benar-bernar serbaguna untuk kamar mandi hingga lampu yang mati. Untuk Mas Fathul atas pinjaman Kamera dan berbagai hal lainnya. Untuk Cak Azizi sebagai pembagi undangan dan urusan parkir. Untuk Cak Kholil (Bungkuk) yang juga keliling undangan dan data donatur. Untuk santri Al Ishlah Langgar Genteng yang sudah masang umbul-umbul, menyapu, bersih-bersih, bantu konsumsi, dan banyak lagi, dan maaf jika sering saya marahi. Untuk Tim Remaja Ababil Bodean yang sudah bekerja apa saja dan kapan saja karena banyaknya yang dikerjakan. Dan untuk siapa saja yang belum tersebut kami ucapkan terimakasih dan Allah akan membalas segala amal bakti kita.

Dan untuk seluruh simpatisan, donatur, bantuan berupa dana, makanan, air minum, pinjaman alat, tenaga, dan waktu yang telah disisihkan untuk Acara Manaqib Kubro Se-Jawa Timur tahun 2017, kami tidak bisa menyebutkan satu persatu atas rasa terimakasih kami yang tidak terhingga.



Hormat Kami dan Salam Ta'dhim
Singosari, 17 Maret 2017
Ketua Panitia



Ahsani Fatchur Rahman
1. Buku Ringkasan Manaqib Kubro
2. Banner Acara
3. Para Ulama dan Umaro di Panggung Utama
4. Para Hadirin memasuki gerbang Pesantren Al Ishlahiyah
5. Ucapan dari PC MATAN SIDOARJO
Gus Ipul selaku Gubernur Jawa Timur memberikan Sambutan. K.H. Harun Ismail memberikan mauidoh hasanah dalam rangkaian acara. K.H. Badawi Umar memberikan sambutan atas nama Tuan Rumah dan Pengasuh PP Al Ishlahiyah Singosari Malang. Gus Ali Akbar Selaku PC MATAN Kota Malang dan Gus Farih Sulaiman Selaku ketua PW MATAN JATIM. 
Beberapa proses Panitia Pelaksana MANAQIB KUBRO yang solid, kuat, iklhas, dan tangguh. di tangan mereka acara ini terbilang sukses dan tanpa hambata yang berarti.
Jamaah memenuhi setiap sudut halaman PP Al Ishlah Langgar Genteng. sekitar 18.000 jamaah memenuhi halaman hingga meluber ke jalan dan lorong serta kelas-keas Pondok. 


Beberapa hal dari acara Manaqib Kubro Se-Jatim 2017 di Al Ishlahiyah Singsari Malang

Kantin Kejujuran Al Ishlahiyah

ini adalah salah satu cara kami untuk membentuk kejujuran santri.